Prof. Dr. Amin Abdullah: Integrasi Agama dan Sains, Sebuah Keniscayaan

Kebijakan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam tentang Pengembangan Pendidikan Tinggi yang tertuang dalam HELTS (Higher Education Long Term Strategy) dinilai dapat meningkatkan daya saing bangsa. PTAI diharapkan mampu berperan sebagai universitas riset berkelas dunia tanpa tercerabut dari identitas kerakyatan dan akar sosio-kulturalnya.

PTAI beberapa tahun ke depan diperkirakan semakin diperhitungkan dalam percaturan pembangunan nasional melalui aktivitas dan hasil riset berikut implementasinya. Hal tersebut disampaikan Prof. Amin Abdullah dalam paparannya di hadapan peserta Temu Konsultasi Jaringan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat PTAI di Manado pada 12-14 Juni 2013 lalu.

Menurut Amin, peran strategis pendidikan tinggi Islam di atas akan semakin terpacu apabila Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama R.I., terus mengawal mandat untuk menghilangkan dikotomi keilmuan yang telah diberikan kepada para dosen.

Mandat penyatuan ilmu agama dan sains yang telah diamanatkan ke PTAI dapat dilakukan dengan paradigma yang berbeda. “Wahyu Memandu Ilmu”, misalnya, merupakan paradigma pengembangan keilmuan UIN Sunan Gunung Djati Bandung sekaligus sebagai strategi dasar pengembangan keilmuan Islami yang integratif-holistik, yang kemudian dibuat metafora “roda” sebagai bingkai lokus pandangan keilmuannya. Sementara konsep “pohon ilmu” merupakan metafora yang menjadi landasan pengembangan dan kajian ilmu pada UIN Malang. Metafora ini menggambarkan sebuah pohon yang tumbuh subur, kuat, rindang, berbuah sehat dan segar. Akar yang kukuh menghujam ke bumi, digunakan untuk menggambarkan ilmu alat yang harus dikuasai secara baik oleh setiap mahasiswa, yaitu bahasa, logika, pengantar ilmu alam dan ilmu sosial. Batang pohon yang kuat digunakan untuk menggambarkan kajian dari sumber ajaran Islam, yaitu al-Qur’an, al-Hadits, Pemikiran Islam, Sirah Nabawiyah, dan Sejarah Islam. Ujar Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta ini.

Konsep “Jaring Laba-laba” yang merupakan metafora simplifikasi konsep paradigma keilmuan Integrasi-Interkoneksi, merupakan sebuah pendekatan dalam pembidangan matakuliah yang mencakup tiga dimensi pengembangan ilmu.

Sebagai penggagas ”madzhab integrasi-interkoneksi” ini, Amin menyatakan bahwa proses mempertemukan “ilmu agama” dan “ilmu sekuler” ini bukan karena alasan pragmatis semata. Ia lahir melalui proses sejarah intelektual yang sangat panjang. Pola pikir ke arah pola triadik bayani, irfani, dan burhani-nya al Jabiri perlu dilakukan dengan menggunakan metodologi lingkaran hermeneutika (hermeneutical circle).

Dari proses inilah kemudian muncul tiga istilah prinsip-prinsip integrasi epistimologi keilmuan, yaitu: hadarah an-nas, hadarah al falsafah, dan hadarah al-‘ilm.

Bagi Amin Abdullah, integrasi agama dan sains adalah mandat bagi PTAI dalam pengembangan pendidikan tinggi Islam di Indonesia. Integrasi keilmuan tersebut tidak sekadar kajian epistimologis, tapi sudah selayaknya diimplementasikan secara aksiologis. (Subdit-5)

oleh Ibnu Anwarudin
Sumber : diktis.kemenag.go.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>